Review Film: The Science of Fictions (2019)

WARGOAL.COM – Sebelumnya, film berjudul lain The Science of Fictions ini sudah berkeliling festival film internasional. Hingga pada 10 Desember, film yang digarap Yosep Anggi Noen ini pulang ke Tanah Air dengan diputarnya di bioskop.

Film ini dibintangi oleh Gunawan Maryanto sebagai Siman, Yudi Ahmad Tajudin sebagai Ndapuk atau Tupon, Lukman Sardi sebagai Jumik, Asmara Abigail sebagai Nadiyah, dan sederet pemain lain.

Film The Science of Fictions ini bercerita tentang Siman, seorang pria yang menjadi saksi konspirasi dunia, yakni pendaratan manusia pertama di Bulan. Premis awal ini jadi hal menarik dan bikin pertanyaan baru, “bagaimana jika pendaratan manusia di Bulan selama ini hanya fiksi dan itu direkam di sebuah padang pasir di desa Siman?”

Film ini punya dua latar waktu: 1965 dan masa kini. Namun, Siman tak pernah terlihat bertambah tua, Semenjak lidahnya dipotong hingga jadi badut astronot di masa kini. Latar film ini pada era tahun 1960-an, dipilih karena ada dua sejarah yang diyakini: pendaratan manusia pertama di Bulan dan sejarah kelam di Indonesia.

Ada banyak teka teki tentang Siman dan tokoh-tokoh lain yang seolah menyimpan fiksinya masing-masing.  Harus diakui, film ini bisa menimbulkan efek tak nyaman bagi sebagian orang, terlebih buat penyuka film-film dengan dialog banyak dan gamblang. Film The Science of Fictions ini bukan sekedar menyampaikan cerita lewat rentetan dialog. Sebaliknya, film minim dialog ini penuh dengan semiotika yang harus dipecahkan oleh persepsi penonton masing-masing.

Siman sebagai seseorang yang berjuang mengungkap sejarah dengan terus bergerak lambat, nyatanya dia tetap manusia yang punya kepentingan pribadi. Siman yang mengalami trauma tubuh pun tidak berdiam diri meratapi nasib, dia tetap bekerja untuk bertahan hidup. Siman yang beraktivitas layaknya astronot di Bulan, bukan karena dia gila, dia melakukan hal itu secara sadar.

Hal tersebut bukan hanya menampilkan perkembangan teknologi, tapi juga soal bagaimana kebenaran itu dibawa dan dikonsumsi publik dari zaman ke zaman. Film ini penuh semiotika di banyak adegannya. Memang bikin bingung, tapi karenanya film ini akan jadi pembahasan menarik pada segala sisi.

Secara garis besar, film The Science of Fictions patut ditonton di layar besar alias di bioskop. Tak hanya kembali merasakan experience nonton di bioskop setelah puasa delapan bulan, tapi juga nonton film racikan baru yang barangkali pertama kali di Indonesia.