Bonus New Member
Kenangan Park Ji-sung di Manchester United
Park Ji-sung bersama Sir Alex Ferguson, 2005.

Pahit Manis Kenangan Park Ji-sung di Manchester United

Sebelum pemain asal Korea Selatan, Son Heung-min di Tottenham Hotspur, ada yang sudah lebih dulu meniti karir di Premier League. Ia adalah gelandang Manchester United, Park Ji-sung yang sudah tujuh musim ikut memperkuat lini pertahanan Setan Merah.

Selama tujuh musim itu, Park Ji-sung memiliki berbagai kenangan bersama Manchester United. Ada yang manis, ada pula pahitnya.

Ada satu kenangan paling menyedihkan yang diakui oleh Park di Manchester United dan tidak akan pernah dilupakannya. Ia mengaku masih merasa getir ketika teringat oleh keputusan Sir Alex Ferguson yang pada saat itu tak menurunkannya pada Final Liga Champions 2008. Park juga mengatakan bahwa itu adalah kenangan paling menyedikan disepanjang kariernya.

Saat itu, Park mengalami cedera lutut dan harus absen sepanjang fase grup Liga Champions 2007-2008. Namun, setelah pulih, ia segera bersinar dan kembali di lapangan hijau.

Park Ji-sung tampil penuh pada dua leg di babak perempat final dan semifinal. Saat itu, United mengalahkan AS Roma dan Barcelona. Namun, menjelang partai final, Park mendpaat kabar buruk. Namanya tidak masuk dalam daftar 18 pemain yang akan bermain melawan Chelsea pada final di Moskow, Rusia.

Atas keputusan itu, Park Ji-sung merasa benar-benar patah hati. Meskipun pada akhirnya ia mengaku bisa memahami keputusan Ferguson tersebut karena yang terpenting adalah MU menang di Stadion Luzniki.

Seperti yang dilansir Express, Park bercerita mengenai kenangannya kepada Utd Unscripted,

Dihibur Rekan-rekan Setim

“Kami banyak memenangi gelar Premier League dan mencapai banyak final. Dan Moskow menjadi momen paling sedih bagi saya, ketika saya mendapati tak masuk skuad untuk final Liga Champions melawan Chelsea,” kata Park kepada Utd Unscripted, seperti dilansir Express.

“Setiap orang luar biasa. Tapi, terutama saya masih ingat Patrice (Evra) dan Carlos (Tevez), mereka benar-benar menghibur saya.”

“Saya sedih tentu saja. Tapi, mereka memeluk saya. Kemudian saya bisa membaca di wajah mereka, bagaimana mereka merasakan kekecewaan untuk saya dan mereka juga sedih,” imbuh Park.

Park sangat menghargai simpati yang diberikan para pemain Manchester United saat itu. Namun, itu tak mengubah fakta dirinya tetap tidak bisa tampil di final.

“Saya pernah kecewa, kemudian ketika pertandingan mulai, saya hanya bisa berdoa untuk kemenangan kami. Seperti itu situasinya. Atmosfer di ruang ganti seperti itu. Setelah segalanya, kami memenangi Liga Champions, jadi tak seorang pun bisa menyalahkan orang lain,” kenang Park.

Park Ji Sung juga tercatat sebagai pemain Asia pertama yang mengangkat trofi Liga Champions. Park memainkan peran penting ketika Manchester United melawan Barcelona pada laga semi final Liga Champions 2008. (AFP/Paul Ellis)

Perasaan Campur Aduk

Manchester United menjuarai Liga Champions melalui adu penalti. Kiper MU, Edwin van der Sar, berhasil menepis tendangan Nicolas Anelka dan segenap pendukung Setan Merah langsung berselebrasi dengan liar.

Skuad Manchester United kemudian menggelar pesta setelah penyerahan trofi. Tapi, Park mengaku sulit menikmatinya. Pesta itu terasa hambar.

“Pada pesta setelah pertandingan, saya hanya separuh menikmatinya, dan separuh tidak. Rasanya aneh. Saya tak bisa memahami di kepala bahwa kami juara Eropa, tapi saya tak benar-benar merasakannya di hati, jadi perasaannya campur aduk,” kata Park.

“Saya sangat senang kami sukses dan menjuarai Liga Champions, yang sangat kami inginkan. Saya tahu bukan hanya saya, tapi ada beberapa pemain lain yang juga tidak dimainkan.”

“Ada 25 pemain atau lebih yang ingin masuk skuad dan hanya 18 yang bisa. Jadi, saya tahu bukan hanya saya. Itu tentang tim,” imbuh Park Ji-sung.

Sumber

Promo Mingguan